Terungkap, Bayi Prematur yang Meninggal di RSUP Kandou Hanya Dijaga Co-Ass

Terungkap, Bayi Prematur yang Meninggal di RSUP Kandou Hanya Dijaga Co-Ass

RSUP Prof RD Kandou hanya memberikan tanggungjawab menjaga bayi prematur yang lahir dengan berat 1000 gram dan resiko kematian 95 persen ke Co-Ass yang masih belajar.

Manado, PORTAL SULUT – Seorang bayi laki-laki dari Jeffry Lendo-Merylin Rumbai bernama bayi Merylin yang lahir prematur di usia kehamilan kurang lebih 26 minggu dengan berat 1000 gram akhirnya meninggal di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit) RSUP Prof RD Kandou, Manado, Sabtu (02/04/2019) dini hari. (Baca : Co-Ass Penjaga Diduga Tertidur, Bayi Merylin Meninggal di RSUP Prof RD Kandou)

Bayi Merylin meninggal disinyalir karena tertidurnya Co-Ass (Asisten dokter yang baru selesai pendidikan S1 Kedokteran dan sementara mengikuti pendidikan profesi dokter) yang diberi tanggungjawab mengoperasikan ventilator manual di inkubator.

Direktur Utama RSUP RD Prof RD Kandou, Dr. dr. Jimmy Panelewen, SpB-KBD, ditemui Rabu (08/05/2019) lalu mengatakan kondisi pasien saat dirujuk secara keilmuan resikonya sangat tinggi sekali.

“Kondisi pasien dengan berat badan 1000 gram dengan depresi pernafasan atau istilah asfiksia dalam keadaan berat, ini yang menyebabkan resikonya sangat tinggi. Itu sebabnya pasien harus masuk di ruang intensif,” ujar Panelewen didampingi Sekretaris Komite Etik, dr Erwin, Sp.F.

Panelewen juga mengakui dengan kondisi pasien saat tiba di RSUP Prof RD Kandou seharusnya dirawat intensif di ruang level 3.

“Pasien seharusnya dirawat diruang level 3. Tapi karena saat itu di level 3 dalam keadaan penuh, maka bayi Marylin pun dirawat di level 1. Disitu tidak ada ventilator automatic,” jelas Panelewen.

Dari keterangan Panelewen dan orangtua bayi, ada perbedaan lokasi perawatan bayi. Sebelumnya, orangtua bayi mengungkapkan jika bayinya dirawat di ruang level 2.

Panelewen juga sempat menyebut nama dr. Rocky sebagai dokter yang bertanggungjawab menangani bayi saat itu bisa menjelaskan kondisi pasien sebenarnya.

“Ditambah memang kondisi pasiennya. Mungkin Dokter Rocky bisa menjelaskan tadi kondisi pasiennya itu. Yang memang secara keilmuan resikonya tinggi sekali. Kita tau berapa persen angka kematiannya. Itu 95 persen lebih itu. Diatas 95 persen angka kematian dengan kondisi sakit seperti itu,” jelas Panelewen.

Panelewen sempat menampik saat dikonfirmasi terkait kesaksian orangtua bayi yang mendapati Co-Ass yang bertanggungjawab mengoperasikan ventilator manual di inkubator tertidur.

“Yang tertidur itu yang jadi pertanyaan ke kami. Kalau tertidur itu sekian detik dia langsung mati itu. Coba misalnya kita bernafas. Misalnya tenggelam. Berapa detik kita mau bertahan? Jadi kalau kondisi tertidur itu, itu yang jadi tanda tanya ke saya. Betul ngga tertidur? Siapa yang bisa memberikan kesaksian bahwa dia tidur?,” ujar Panelewen tanpa mau menyebutkan nama Co-Ass yang bertugas saat itu.

Panelewen juga terkesan menutupi keberadaan CCTV pengawas (Closed Circuit Television) di ruang perawatan bayi.”Kalau disitu tidak ada CCTV. Saya juga tadi tanya, kalau ada CCTV saya mau ambil,” ujar Panelewen seraya menjelaskan ada pergantian 3 shift di RSUP RD. Kandou.

Portalsulut pun sempat mengamati kondisia di ruangan NICU. Tampak beberapa CCTV menempel di plafon ruangan.

Pada ruangan Level 2 yang terletak disebelah kiri pintu masuk utama pun tampak CCTV yang menghadap pintu masuk ruang level 2.

Saat kembali ditanya terkait penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit dalam penanganan pasien dengan kondisi seperti bayi yang diberi nama bayi Merylin, yang hanya dirawat intensif menggunakan ventilator manual, secara tersirat Panelewen seakan ingin mengatakan jika tidak akan ada manusia yang mampu menjaga ventilator manual secara intens selama 1×24 jam.

“Ngana bisa misalnya ramas-ramas begitu 1×24 jam?,” tanya Panelewen ke PortalSulut dengan nada tinggi.

Namun, Penelewen mengakui jika dr. Rocky sempat menelpon dirinya bertanya tentang tidurnya Co-Ass yang menjaga.

Sebelumnya, saat dikonfirmasi pada Selasa (16/04/2019) lalu melalui nomor WhatsAppnya, Panelewen sempat meminta Portalsulut untuk mengkonfirmasi ke dokter yang merawat dengan memberikan nomor handphone +62 811 435*** atas nama Dr. Rocky.

Saat datang melakukan konfirmasi ke RSUP Prof RD Kandou, Rabu (08/05/2019), Portalsulut sempat bertemu dengan dr. Rocky Sp.A di ruang Humas.

Namun secara tiba-tiba dr. Rocky Sp.A harus meninggalkan ruangan humas sebelum memberikan konfirmasi dengan alasan menangani pasien.

Sementara itu, orangtua bayi ke Portalsulut mengungkapkan pekan lalu telah membuat pengeluhan ke pihak RSUP Prof RD Kandou Manado.

“Setelah lewat 40 hari kepergian anak kami, kami sudah ke RSUP Kandou untuk membuat keluhan atas peristiwa yang kami alami dengan mengisi formulir keluhan di bagian humas Keluhan ini kami buat untuk kebaikan pelayanan rumah sakit kedepannya,” ujar Ayah biologis bayi Merylin, Jeffry Lendo, Selasa (28/05/2019).

Lendo juga mengakui pihak RSUP Prof RD Kandou telah bertemu dengannya melalui Direktur Medik dan Keperawatan, dr. Celestinus E. Munthe, Sp.KJ, M.Kes.

“Beberapa hari lalu pihak manajemen RSUP Kandou melalui Direktur Medik dan Keperawatan, dr. Celestinus E. Munthe, Sp.KJ, M.Kes sudah bertemu saya untuk mengklarifikasi langsung keluhan saya. Katanya, berdasarkan keterangan kronologis dari saya, beliau akan mengkonfirmasi ke pihak dokter yang menangani. Setelah itu akan ada pertemuan lagi. Tapi saya akan tetap melaporkan peristiwa ini ke pihak Kepolisian dan pihak terkait lainnya. Agar semua tuntas dan pelayanan RSUP Kadou lebih baik kedepannya,” kunci Lendo. (Portalsulut.com)

Penulis : Simon Siagian

Tags: , , , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.